My photo
Um escritor, um poeta, um aventureiro,

Sunday, 12 April 2015

Cerpen (Cerita Pendek): PEMBERONTAK

Negeri yang baru merdeka ini, dikuasai oleh 62 anggota parlement, 55 menteri, satu jaksa agung, satu perdana menteri, satu presiden, 4000 anggota polisi dan 10000 anggota militer. Juga, dikuasai oleh seorang pemberontak. 
***
Dilantai atas tertulis sebuah papan "Pantai Pijat Om". Papan berbahasa Indonesia ini ditulis dengan warna hitam, huruf china dan berukuran sekitar 2x1 meter. 

Dilantai bawah digunakan sebagai rumah makan. Dirumah makan ini hanya menyediakan makanan Arab. Rumah makan tua yang didirikan sejak tahun 1800-an tetap berdiri megah, tegah dan kuat dijantung kota. 

Disitulah, setiap malam para konglomerat dan politikus berkumpul. Yang berkumpul dirumah makan tua itu hanyalah orang2 yang punya nama besar didalam masyarakat. Mereka datang dari berbagai lapisan kota dengan latar belakang pendidikan dan partai politik berbeda. Masyarakat primitiv memanggil mereka dengan nama madiba.

Setiap malam mobil bermodel jaman modern dengan warna warni istimewa berhenti di didepan rumah makan tua tersebut. Tidak seorangpun dari masyarakat primitiv yang tinggal disekitar rumah makan itu tahu dari maksud dan tujuan mereka berkumpul setiap malam. Karena tidak seorangpun diijinkan masuk oleh petugas keamanan kedalam rumah makan tersebut. Seakan2 mereka sedang berencana untuk melakukan perlawanan. 

Tetapi untuk siapa perlawanan tersebut? Untuk melawan kekuasaan? Untuk menghancurkan dunia? Untuk sebuah reformasi politik? Atau hanya sebuah revolusi karena masalah pribadi.

Masyarakat pribumi yang tinggal dikota tua ini mulai tergeser ke pinggiran. Setiap hari para imigrant ilegal menguasai pasar lokal, menikah dengan gadis2 pribumi dan mengklaim hak milik atas tanah. Masyarakat pribumi mulai diusir, dicaci maki dan dipukuli oleh para imigrant2 ilegal. Para imigrant ilegal telah menguasai ekonomi negara krokodil. 

Dijalan raya yang diberi nama seorang filsuf tua ini memiliki cerita klasik. Ratusan tahun yang lalu, seorang wanita dikubur hidup2 karena wanita itu tidak pernah berdoa. Ia dianggap sebagai iblis oleh para masyarakat primitiv yang menghuni disekitar jalan raya besar ini. Wanita itu selalu mencuri anak2 kecil dan menghilangkan nyawa mereka. Wanita itu tidak pernah menghormati orang2 tua. Wanita itu selalu melakukan segala cara korupsi, penyiksaan dan pelanggaran HAM lainnya. Seratus tahun kemudian nama wanita itu dipublikasikan didalam buku.
***
Saya tinggal disebuah pondok kecil dekat Istana Negara. Istana Negara yang dibanggung dari hasil minyak bumi selalu terang tetapi pondokku selalu gelap.
Setiap hari dari radio kecil pemberian pacarku, saya mendengar berita tentang pembunuhan-pembunuhan massal di beberapa negara Arab, Afrika dan Eropa dan beberapa kejadian alam terjadi di negara Asia.  

Pacarku adalah anak seorang menteri dari pemerintahan sementara di negaraku. Dia selalu datang menemaniku dipondok kecil itu. Setiap hari dimanis hatiku menceritakan tentang hasil korupsi sang ayah yang bermuka angel tetapi berhati iblis.
Simanis menyatakan bahwa semua peralatan didalam rumah adalah hasil korupsi sang ayah, sang menteri.

Diparlement sedang terjadi perdebatan tentang hak milik tanah, hak pendidikan dan hak berdemonstrasi. Tetapi, pemerintahan sementara tidak sibuk dengan ketiga hak tersebut. Sedangkan, kelompok revolusi tetap melakukan demonstrasi menuntut perubahan sistem pemerintahan.  

Didalam pondokku, saya mempersiapan beberapa tulisan tentang Revolusi. Menurut saya, yang harus dilakukan dinegeriku yang baru saja merdeka adalah revolusi mental. Revolusi mental bisa saja dimulai dari pondokku yang kecil. Bersama-sama dengan kekasihku anak seorang menteri, saya mempersiapkan revolusi mental atau budaya, tampa senjata, tampa darah. 

Dipondokku, saya bersama anak menteri telah mempersiapkan beberapa surat kaleng untuk disebarkan kepada anggota2 pemerintahan. Didalam surat kaleng itu tertulis: "hanya revolusi mental tampa senjata, tampa darah".
***
Sejak 2006 saya menghuni pondok kecil ini. Seringkali saya diusir oleh aparat keamanan dan pondokku dibongkar tetapi saya membangung kembali dan tetap tinggal di pondok tua ini. 

Tahun 2006 tercatat sebagai sejarah hitam untuk tanah airku. Waktu itu saya baru berumur 15 tahun. Saya melihat anak2 kecil bermain2 dengan tangan dan kaki dari orang2 yang telah meninggal karena waktu itu terjadi pemberontak diseluruh wilayah. Saya mendekati seorang anak kecil dan bertanya, "kenapa kalian bermain dengan kaki dan tangan dari orang2 yang telah meninggal?". Anak kecil itu menjawab, "diperintahkan oleh soldadu". 

Jam ditanganku menunjukan pukul 01.23 dini hari. Saya terbangun dari tidur karena saya bermimpi tentang anak2 kecil yang polos berjalan2 menuju ke sekolah. Mereka membawa tas berisi pensil dan buku. 

Saya terbanggung dari tidurku dan langsung memegang mobile Iphone 6 plus pemberian pacarku dan menelpon simanis dan mulai berbincang dengannya. 

Jam 5 pagi. Seekor burung pipit mengeluarkan suara yang merdu diatap pondokku. Ia memberi selamat pagi kepadaku dan mengingatkan aku akan kegiatan2 baru yang harus dilakukan. Suara yang merdu dan regular membuatku semakin merasa aman dan tenang. Matahari terbit di Lorosa'e. Beberapa buku terlantar dilantai. Seorang anak muda mendekati pondokku dan melemparkan tiga surat kabar diikat erat ke dalam pondok. Saya memperhatikan satu per satu. Semuanya berisi tentang masalah keadilan sosial, korupsi, revolusi, veteran, pemerkoasaan, selingkuh, imigrant ilegal, pergantian kabinet. Tidak ada satupun yang terisi dengan berita tentang peresmian pabrik baru yang dapat menampung 10000 pemuda yang sedang nganggur.

Saya mulai menulis sebuah surat kepada sang presiden. Saya katakan kepada sang presiden bahwa "Negara harus pintar melakukan korupsi terhadap rakyat. Negara jangan membiarkan rakyat hidup bebas. Negara harus menuntut rakyat membayar pajak karena jika rakyat tidak membayar pajak maka negara akan menjadi miskin. Negara menjadi besar dan makmur karena rakyatnya selalu setia membayar pajak". End

No comments:

Post a Comment